Ada satu waktu, saat sunyi menepi, aku bertanya dalam hati: Apa yang sebenarnya ada di benak Hawa, saat ia mengulurkan buah itu kepada Adam? Dan suara dari dalam jiwaku menjawab, lembut seperti angin sore: Mungkin ia penasaran. Mungkin ia ingin tahu lebih dari yang diberitahukan. Atau mungkin… ia hanya ingin merasakan seperti Tuhan: tahu, sadar, dan mengerti. Aku berkata: Tapi bukankah Tuhan sudah memberi peringatan? “Engkau akan mati.” Suara itu menjawab: Ya. Tapi kematian itu bukan tubuh yang roboh seketika. Itu kematian akan kepolosan. Kematian akan kedekatan yang murni dengan Sang Sumber. Saat buah itu disentuh bibirnya, dunia berubah. Kesadaran datang—namun bersamanya, lahir rasa malu. Aku bertanya lagi, lirih: Siapa yang berdosa lebih dulu? Suara itu hening sejenak, lalu berkata: Hawa memang yang pertama menjatuhkan diri. Namun Adam, dengan penuh kesadaran, memilih untuk ikut jatuh. Mungkin karena cinta. Mungkin karena takut kehilangan. Dan di situ, dosa bukan sekadar pelan...
Hidup adalah sumber kesehatan, namun energi ini muncul hanya di tempat kita memusatkan perhatian kita. Perhatian ini harus tidak hanya bersifat mental tapi juga emosional, seksual, dan jasmaniah. Kekuasaan tidak berbohong di masa lalu atau di masa depan, yaitu tempat duduk penyakit. Kesehatan ditemukan di sini dan sekarang. Kebiasaan beracun dapat ditinggalkan seketika jika kita tidak lagi mengidentifikasi diri kita dengan masa lalu. Semuanya hidup, terjaga, dan merespons. Semuanya mendapatkan kekuatan jika pasien melimpahkannya. . . Seorang ibu menggunakan perawatan phytotherapeutic untuk menyembuhkan bayinya, di mana dia harus memberinya air minum dengan empat puluh tetes campuran minyak esensial yang ditambahkan, menemukan bahwa penyakit ini berlanjut. Saya mengatakan kepadanya, “Apa yang terjadi adalah Anda tidak percaya dengan obat ini. Karena agama Anda adalah Katolik, katakanlah Doa Bapa Kami setiap kali Anda memberinya tetes untuk diminum. “Dia melakukan ini, dan an...