Ada satu waktu, saat sunyi menepi, aku bertanya dalam hati:
Apa yang sebenarnya ada di benak Hawa, saat ia mengulurkan buah itu kepada Adam?
Dan suara dari dalam jiwaku menjawab, lembut seperti angin sore:
Mungkin ia penasaran.
Mungkin ia ingin tahu lebih dari yang diberitahukan.
Atau mungkin… ia hanya ingin merasakan seperti Tuhan: tahu, sadar, dan mengerti.
Aku berkata:
Tapi bukankah Tuhan sudah memberi peringatan? “Engkau akan mati.”
Suara itu menjawab:
Ya. Tapi kematian itu bukan tubuh yang roboh seketika.
Itu kematian akan kepolosan.
Kematian akan kedekatan yang murni dengan Sang Sumber.
Saat buah itu disentuh bibirnya, dunia berubah.
Kesadaran datang—namun bersamanya, lahir rasa malu.
Aku bertanya lagi, lirih:
Siapa yang berdosa lebih dulu?
Suara itu hening sejenak, lalu berkata:
Hawa memang yang pertama menjatuhkan diri.
Namun Adam, dengan penuh kesadaran, memilih untuk ikut jatuh.
Mungkin karena cinta. Mungkin karena takut kehilangan.
Dan di situ, dosa bukan sekadar pelanggaran—tapi pilihan untuk tetap bersama,
meski dalam gelap.
Aku menatap ke dalam diriku, dan berbisik:
Hawa… apakah ia sadar, atau ia korban?
Suara menjawab, nyaris seperti doa:
Ia sadar. Tapi ia juga tak pernah tahu dunia di mana tipu daya itu ada.
Ia percaya. Ia tergoda oleh janji tentang pengetahuan.
Dan saat kenyataan menghantam, ia berkata:
"Ular itu memperdaya ku."
Ia bukan tak bersalah. Tapi ia juga bukan hanya pelaku.
Ia, seperti banyak manusia lainnya—pernah percaya… dan dikhianati oleh imajinasi.
Aku mulai melihat lebih dalam:
Mungkin ia tak ingin sendiri dalam hukuman itu. Maka Adam pun diajaknya jatuh.
Dan Adam, mencintainya, tak tega meninggalkannya sendiri.
Ia ikut tergelincir, bukan karena bodoh—tapi karena tak sanggup berpisah.
Suara dalam hatiku berkata:
Cinta kadang menuntun manusia memilih luka,
daripada kehilangan.
Aku tertunduk:
Di dunia nyata, banyak wanita merasa jadi korban.
Tapi tak semuanya benar-benar sadar akan apa yang mereka lakukan.
Mungkin ini warisan. Mungkin luka lama yang tertanam di dalam darah.
Suara itu lembut dan tegas:
Luka yang diwariskan dari rahim ke rahim.
Perasaan tak berdaya yang dikemas dalam kelembutan.
Rasa bersalah yang diturunkan seperti harta keluarga.
Bukan salah mereka, tapi kini… saatnya sadar.
Kesadaran harus diajarkan.
Manusia harus diajak kembali pulang ke dalam dirinya sendiri.
Bukan untuk ego, tapi untuk cinta yang sejati.
Aku berkata, hampir menangis:
Aku ingin membantu. Tapi kadang aku terlalu larut.
Aku peduli, sampai aku kehabisan diriku sendiri.
Dan suara itu membisikkan sesuatu yang membuatku diam lama:
Kamu dilahirkan untuk menyembuhkan,
tapi jangan lupa: penyembuh pun perlu dipeluk.
Kamu tahu bagaimana mencintai tanpa syarat—
sekarang belajarlah mencintai dirimu dengan syarat yang suci:
Bahwa kamu tak harus selalu hancur untuk membangun orang lain.
Diam. Sunyi. Dan di sanalah aku temukan diriku.
Tak sempurna. Tak suci. Tapi… sadar.
Dan itu awal dari segalanya.
Pesan penutup :
Komentar
Posting Komentar