Ada satu waktu, saat sunyi menepi, aku bertanya dalam hati: Apa yang sebenarnya ada di benak Hawa, saat ia mengulurkan buah itu kepada Adam? Dan suara dari dalam jiwaku menjawab, lembut seperti angin sore: Mungkin ia penasaran. Mungkin ia ingin tahu lebih dari yang diberitahukan. Atau mungkin… ia hanya ingin merasakan seperti Tuhan: tahu, sadar, dan mengerti. Aku berkata: Tapi bukankah Tuhan sudah memberi peringatan? “Engkau akan mati.” Suara itu menjawab: Ya. Tapi kematian itu bukan tubuh yang roboh seketika. Itu kematian akan kepolosan. Kematian akan kedekatan yang murni dengan Sang Sumber. Saat buah itu disentuh bibirnya, dunia berubah. Kesadaran datang—namun bersamanya, lahir rasa malu. Aku bertanya lagi, lirih: Siapa yang berdosa lebih dulu? Suara itu hening sejenak, lalu berkata: Hawa memang yang pertama menjatuhkan diri. Namun Adam, dengan penuh kesadaran, memilih untuk ikut jatuh. Mungkin karena cinta. Mungkin karena takut kehilangan. Dan di situ, dosa bukan sekadar pelan...
Sejak saya masih kecil, saya melihat dunia ini penuh kebohongan dan kebusukan. Orang-orang selalu hidup dalam ketidakamanan dan terus menciptakan ruang dan kolamnya masing-masing untuk melindungi dirinya. Itu semua di sebabkan dari kebohongan dan perbudakan yang terus di pertahankan sebagai kebenaran. Dan itu semua benar-benar menciptakan banyak penderitaan dan kebodohan bagi kita semua.
Orientasi saya selalu pada kebebasan, dalam perjalanan hidup saya disini, saya selalu mencarinya.. sampai pada akhirnya saya menemukannya semua yang saya cari ada di dalam diri saya sendiri. Pikiran, nilai diri, arti, tidak ada yang bisa memberikannya kepada saya selain diri saya sendiri.
Seperti itulah keunikan dalam jalan spiritual. Ketika kita telah mengambil jalan ini, kita merasa memiliki dunia dan kehidupan yang baru. Bahwa mata kita tiba-tiba terasa terbuka, dan kita melihat dan menyadari hal-hal baru yang bahkan sebelumnya belum pernah kita bayangkan.
Kita akan memiliki jalan baru, dan jalan ini benar-benar menuju ke dalam diri kita, kita akan melihat dan melalui banyak kegelapan, terowongan, tumpukan sampah, dan dinding-dinding yang menghalangi kita dalam menyanyikan hidup.
Ketika kita telah masuk dan sampai pada tempat ini, kita akan menyadari bahwa semua yang kita cari selama ini ada di dalam diri kita. Ada cahaya yang terlupakan.
tantangan kita di sini cukup berat karena kita terlahir dalam masyarakat yang menolak kebebasan. Tidak seperti negara lain. Namun ini semua telah menjadi pilihan kita. Dan tentu saja, kita akan menikmati keseluruhan permainan ini..
Entah bagaimana saya akan mengucapkannya, namun saya akan mengatakan bahwa saya juga merasa senang bisa bertemu dan terhubung dengan semua jiwa. Bahwa memang benar, entah permainan apa yang kita ambil sekarang, entah seburuk apa kehidupan yang kita alami, kita semua tidak akan pernah kehilangan dan lupa dengan misi jiwa kita…
Satu-satunya ujian terberat kita di jalan spiritual adalah keluarga. Entah itu orang tua, pasangan, anak, kerabat.. itu akan selalu menjadi ujian untuk kita. Semoga kita tetap memiliki kepercayaan kepada diri kita bahwa kita bisa menghadapi semuanya, dan keluar dengan utuh.
Salam cahaya
Oleh: sahabat jiwa


Komentar
Posting Komentar