Ada satu waktu, saat sunyi menepi, aku bertanya dalam hati: Apa yang sebenarnya ada di benak Hawa, saat ia mengulurkan buah itu kepada Adam? Dan suara dari dalam jiwaku menjawab, lembut seperti angin sore: Mungkin ia penasaran. Mungkin ia ingin tahu lebih dari yang diberitahukan. Atau mungkin… ia hanya ingin merasakan seperti Tuhan: tahu, sadar, dan mengerti. Aku berkata: Tapi bukankah Tuhan sudah memberi peringatan? “Engkau akan mati.” Suara itu menjawab: Ya. Tapi kematian itu bukan tubuh yang roboh seketika. Itu kematian akan kepolosan. Kematian akan kedekatan yang murni dengan Sang Sumber. Saat buah itu disentuh bibirnya, dunia berubah. Kesadaran datang—namun bersamanya, lahir rasa malu. Aku bertanya lagi, lirih: Siapa yang berdosa lebih dulu? Suara itu hening sejenak, lalu berkata: Hawa memang yang pertama menjatuhkan diri. Namun Adam, dengan penuh kesadaran, memilih untuk ikut jatuh. Mungkin karena cinta. Mungkin karena takut kehilangan. Dan di situ, dosa bukan sekadar pelan...
"Aku ingin hadir untuk orang lain. Tapi sekarang aku sadar, hadir untuk diriku sendiri juga adalah bentuk cinta yang paling pertama." Aku sedang berada dalam fase belajar mencintai diri sendiri. Itu bukan perjalanan yang mudah, terutama karena aku punya kecenderungan untuk peduli, bahkan terlalu peduli, pada orang-orang yang merasa jadi korban dalam hidup mereka. Aku gak bisa diam saja ketika melihat seseorang terjebak dalam luka atau drama yang menyakitkan. Ada dorongan kuat dalam diriku untuk menuntun mereka, menunjukkan jalan keluar, memberi bahu, bahkan jika itu artinya aku yang lelah di ujung cerita. Namun belakangan ini aku mulai menyadari satu hal penting: Aku sering terkuras. Energi, emosi, bahkan pikiranku kadang terserap habis oleh upaya menyelamatkan orang lain. Dan yang lebih menyedihkan, sering kali mereka bahkan tidak benar-benar ingin keluar dari drama itu—mereka hanya ingin ada yang tetap menemani mereka di sana. Lalu aku sadar: "Aku harus tetap bisa men...