Langsung ke konten utama

Dialog jiwa

  Ada satu waktu, saat sunyi menepi, aku bertanya dalam hati: Apa yang sebenarnya ada di benak Hawa, saat ia mengulurkan buah itu kepada Adam? Dan suara dari dalam jiwaku menjawab, lembut seperti angin sore: Mungkin ia penasaran. Mungkin ia ingin tahu lebih dari yang diberitahukan. Atau mungkin… ia hanya ingin merasakan seperti Tuhan: tahu, sadar, dan mengerti. Aku berkata: Tapi bukankah Tuhan sudah memberi peringatan? “Engkau akan mati.” Suara itu menjawab: Ya. Tapi kematian itu bukan tubuh yang roboh seketika. Itu kematian akan kepolosan. Kematian akan kedekatan yang murni dengan Sang Sumber. Saat buah itu disentuh bibirnya, dunia berubah. Kesadaran datang—namun bersamanya, lahir rasa malu. Aku bertanya lagi, lirih: Siapa yang berdosa lebih dulu? Suara itu hening sejenak, lalu berkata: Hawa memang yang pertama menjatuhkan diri. Namun Adam, dengan penuh kesadaran, memilih untuk ikut jatuh. Mungkin karena cinta. Mungkin karena takut kehilangan. Dan di situ, dosa bukan sekadar pelan...

Caramu Hidup Menciptakan Penyakitmu

Sumber gambar (shutterstock)

Kebahagiaan adalah sifat alami manusia. Engkau tidak perlu khawatir tentang kebahagiaan sama sekali, ia sudah ada di sana. Ia ada di dalam hatimu – engkau hanya harus berhenti menjadi tidak bahagia, engkau harus menghentikan mekanisme yang berfungsi menciptakan ketidakbahagiaan.

Tapi sepertinya tidak ada seorang pun yang siap untuk itu. Orang-orang berkata, “Aku ingin bahagia.” Ini seolah-olah engkau terus berkata, ‘Aku ingin sehat’ – dan engkau terus berpegang erat pada penyakitmu, dan engkau tidak membiarkan penyakitnya pergi. Jika dokter meresepkan obatnya, engkau membuang obatnya; engkau tidak pernah mengikuti resep apa pun. Engkau tidak pernah pergi berjalan-jalan pagi, engkau tidak pernah berenang, engkau tidak pernah berlari di pantai, engkau tidak pernah berolahraga. Engkau terus makan dengan rakus, engkau terus menghancurkan kesehatanmu – dan berkali-kali engkau terus bertanya di manakah menemukan kesehatan. Tetapi engkau tidak mengubah mekanisme yang menciptakan penyakitnya.

Kesehatan bukanlah sesuatu yang harus dicapai di suatu tempat, ia bukan obyek.

Kesehatan adalah cara hidup yang benar-benar berbeda. Caramu hidup menciptakan penyakit, caramu hidup menciptakan kesengsaraan.
Sebagai contoh, orang-orang mendatangiku dan mereka berkata bahwa mereka ingin bahagia, tetapi mereka tidak bisa menjatuhkan kecemburuan mereka. Jika engkau tidak bisa menjatuhkan kecemburuanmu, cinta tidak akan pernah tumbuh – rumput liar kecemburuan akan menghancurkan mawar cinta. Dan ketika cinta tidak tumbuh, engkau tidak akan bahagia. Karena siapa yang bisa bahagia tanpa cinta yang tumbuh? Kecuali jika mawar itu mekar di dalam dirimu, kecuali jika keharuman itu dilepaskan, engkau tidak bisa bahagia.

Sekarang orang-orang menginginkan kebahagiaan – tetapi hanya dengan menginginkan, engkau tidak bisa mendapatkannya. Menginginkan tidak cukup. Engkau akan harus melihat ke dalam fenomena kesengsaraanmu, bagaimana engkau menciptakannya – bagaimana sejak awalnya engkau menjadi sengsara, bagaimana engkau terus menjadi sengsara setiap hari – apakah teknikmu?

Karena kebahagiaan adalah fenomena alami – jika seseorang bahagia tidak ada keterampilan di dalamnya, jika seseorang bahagia, tidak perlu keahlian untuk menjadi bahagia.

Hewan-hewan bahagia, pohon-pohon bahagia, burung-burung bahagia. Seluruh semesta bahagia, kecuali manusia. Hanya manusia yang begitu pandai untuk menciptakan ketidakbahagiaan – tidak ada mahluk lain yang tampaknya begitu ahli. Jadi ketika engkau senang itu sederhana, itu polos, itu tidak perlu dibanggakan. Tetapi ketika engkau tidak bahagia, engkau sedang melakukan hal-hal besar atas dirimu sendiri; engkau melakukan sesuatu yang benar-benar sulit.

Osho ~ Zen: The Path of Paradox.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apakah Egomu Sendiri sudah Mengalahkanmu?

  Saat kita semakin dalam dan lebih jauh di jalan spiritual kita, ego kita tidak punya pilihan selain menjadi lebih licik dalam suatu cara agar itu terjadi, terutama jika kita memiliki ego yang ulet. Pertama kali saya menyadari betapa kuatnya ego saya adalah pertama kali saya mencoba  jamur psikedelik . Saya tertawa.sekarang ketika saya memikirkan betapa liciknya ego saya pada hari itu. Saya dan beberapa teman saya yang memutuskan untuk memakan jamur itu di pantai. Dalam waktu satu jam mereka berdua merasakan efeknya tetapi saya tidak merasakan apa-apa. Jika Anda pernah memakan  jamur psikedelik  sebagai latihan spiritual, Anda tahu bahwa pada akhirnya ego Anda pada dasarnya terlempar dan yang tersisa hanyalah mata cinta; ego Anda benar-benar terlepas dari keberadaan Anda. Apa yang saya tahu sekarang adalah bahwa ego saya melawan jamur dengan sekuat tenaga, sedemikian rupa sehingga mencoba meyakinkan saya bahwa alasan saya tidak merasakan efeknya ...

tertawa disaat hatimu sedang menangis.

Jangan terus berpura-pura tertawa saat hatimu sedang menangis. Jangan tersenyum jika matamu berlinang air mata. Jangan bertindak tidak autentik, karena dengan menjadi tidak autentik engkau hanya melindungi lukamu agar tidak sembuh. Seluruh keberadaanmu akan menjadi busuk. Ekstasi (kebahagiaan tertinggi) hanya keluar dari penderitaan – dan semakin dalam penderitaan, semakin dalam ekstasi; penderitaan total, akan menjadi ekstasi total. Semuanya harus dibayar. Untuk mendapatkan ekstase, kita harus membayar dengan penderitaan. Seseorang harus melalui kepedihan yang dalam untuk menyingkirkan kesakitan. Kepedihan adalah pembersihan. Kepedihan adalah api yang membakar sampah di dalam diri, ia menghancurkan yang tidak penting. Sama seperti kita memurnikan emas melalui api, kesadaran dimurnikan melalui penderitaan yang dalam. Penderitaan memiliki suatu pelajaran yang ingin dia sampaikan kepadamu. Jangan hindari penderitaan! Jika engkau menghindari penderitaan, engkau menghindari kebahagiaan. Ja...

Tentang kebebasan

 Sejak saya masih kecil, saya melihat dunia ini penuh kebohongan dan kebusukan. Orang-orang selalu hidup dalam ketidakamanan dan terus menciptakan ruang dan kolamnya masing-masing untuk melindungi dirinya. Itu semua di sebabkan dari kebohongan dan perbudakan yang terus di pertahankan sebagai kebenaran. Dan itu semua benar-benar menciptakan banyak penderitaan dan kebodohan bagi kita semua. Orientasi saya selalu pada kebebasan, dalam perjalanan hidup saya disini, saya selalu mencarinya.. sampai pada akhirnya saya menemukannya semua yang saya cari ada di dalam diri saya sendiri. Pikiran, nilai diri, arti, tidak ada yang bisa memberikannya kepada saya selain diri saya sendiri. Ketika saya hidup sebagai individu, saya merasa bebas. Saya menemukan nilai dan arti dalam diri saya. Ketika saya melepaskan semua hal tentang persamaan, bahwa saya bukanlah bagian dari kelompok, bahwa saya memiliki karakter, nilai, warna sendiri.. yang berbeda. Saya merasa menemukan diri saya kembali.~ Prin...