Langsung ke konten utama

Dialog jiwa

  Ada satu waktu, saat sunyi menepi, aku bertanya dalam hati: Apa yang sebenarnya ada di benak Hawa, saat ia mengulurkan buah itu kepada Adam? Dan suara dari dalam jiwaku menjawab, lembut seperti angin sore: Mungkin ia penasaran. Mungkin ia ingin tahu lebih dari yang diberitahukan. Atau mungkin… ia hanya ingin merasakan seperti Tuhan: tahu, sadar, dan mengerti. Aku berkata: Tapi bukankah Tuhan sudah memberi peringatan? “Engkau akan mati.” Suara itu menjawab: Ya. Tapi kematian itu bukan tubuh yang roboh seketika. Itu kematian akan kepolosan. Kematian akan kedekatan yang murni dengan Sang Sumber. Saat buah itu disentuh bibirnya, dunia berubah. Kesadaran datang—namun bersamanya, lahir rasa malu. Aku bertanya lagi, lirih: Siapa yang berdosa lebih dulu? Suara itu hening sejenak, lalu berkata: Hawa memang yang pertama menjatuhkan diri. Namun Adam, dengan penuh kesadaran, memilih untuk ikut jatuh. Mungkin karena cinta. Mungkin karena takut kehilangan. Dan di situ, dosa bukan sekadar pelan...

tertawa disaat hatimu sedang menangis.



Jangan terus berpura-pura tertawa saat hatimu sedang menangis. Jangan tersenyum jika matamu berlinang air mata. Jangan bertindak tidak autentik, karena dengan menjadi tidak autentik engkau hanya melindungi lukamu agar tidak sembuh. Seluruh keberadaanmu akan menjadi busuk.

Ekstasi (kebahagiaan tertinggi) hanya keluar dari penderitaan – dan semakin dalam penderitaan, semakin dalam ekstasi; penderitaan total, akan menjadi ekstasi total.

Semuanya harus dibayar. Untuk mendapatkan ekstase, kita harus membayar dengan penderitaan. Seseorang harus melalui kepedihan yang dalam untuk menyingkirkan kesakitan. Kepedihan adalah pembersihan. Kepedihan adalah api yang membakar sampah di dalam diri, ia menghancurkan yang tidak penting. Sama seperti kita memurnikan emas melalui api, kesadaran dimurnikan melalui penderitaan yang dalam. Penderitaan memiliki suatu pelajaran yang ingin dia sampaikan kepadamu.

Jangan hindari penderitaan! Jika engkau menghindari penderitaan, engkau menghindari kebahagiaan. Jangan hindari dunia! Jika engkau menghindari dunia, engkau telah menghindari Tuhan. Jangan hindari kegelapan. Jika engkau menghindari kegelapan, fajar tidak akan pernah datang. Setelah melampaui kegelapan malam itulah pagi cerah lahir. Dan saat malam paling gelap, matahari akan segera terbit.

Ingatlah hukum dasar kehidupan ini, paradoks ini.

Jika aku harus membersihkanmu, memurnikanmu, aku harus menjadi api bagimu. Yesus berkata: Aku adalah api dan aku datang untuk membakar dirimu! Setiap master adalah api. Jika engkau menemukan master yang bukan api, tetapi hanya sejenis salep yang menenangkan, larilah darinya! Dia akan memberimu penghiburan, tetapi dia tidak akan bisa mengubah energi kehidupanmu. Dia mungkin bisa membuatmu nyaman dalam hidup, tapi dia tidak akan bisa membantumu melampaui hidup.

Master sejati selalu seperti api. Seorang master sejati selalu ada untuk menghancurkan.

Ya, aku akan menyentuh lukamu lagi dan lagi. Engkau menyembunyikan lukamu. Itulah mengapa lukamu tidak sembuh. Semua lukamu harus dibawa ke bawah sinar matahari, ke udara segar. Mereka harus diekspos, dimunculkan lagi. Hanya dalam eksposur itulah lukamu akan mulai sembuh. Dan, ya, saat aku menyentuh lukamu, itu akan menyakitkan. Semakin ingin sembuh, semakin sakit, karena banyak nanah di sana. Engkau telah menyembunyikan lukamu begitu lama – banyak nanah terkumpul di sana. Nanah itu harus dikeluarkan dari dirimu.

Penderitaan bukanlah kutukan. Penderitaan adalah berkah – karena dari penderitaan ini, perlahan-lahan, dirimu akan muncul dalam dimensi yang sama sekali berbeda. Penerimaan adalah jembatannya. Terimalah rasa sakitnya, terimalah lukanya, terima dirimu apa adanya! Jangan mencoba berpura-pura menjadi orang lain, jangan mencoba menunjukkan bahwa engkau bukan dirimu saat ini. Jangan egois, dan jangan terus berpura-pura tertawa saat hatimu menangis. Jangan tersenyum jika matamu berlinang air mata. Jangan menjadi tidak autentik, karena dengan menjadi tidak autentik engkau hanya melindungi lukamu agar tidak sembuh. Seluruh keberadaanmu akan membusuk.

Begitulah orang-orang itu! Ada banyak nanah di diri mereka. Dan mereka, entah bagaimana, mengaturnya sehingga tidak ada yang tahu betapa busuknya di dalam diri mereka. Mereka tidak masuk ke dalam diri mereka sendiri karena baunya terlalu menyengat dan itu mengerikan. Dan mereka tidak mengizinkan siapa pun untuk memasuki keberadaan mereka – itulah mengapa mereka tidak bisa mencintai, karena cinta membutuhkan eksposur. Mereka tidak melakukan hubungan, karena jika engkau berhubungan dengan seseorang, dia mungkin akan mencium hal-hal yang kau sembunyikan yang kau tahu ada di dalam dirimu. Engkau tetap menyendiri, engkau hanya melangkah sejauh ini.

Sannyas itu seperti meja operasi. Banyak bagian yang busuk harus dipotong dan banyak racun harus dikeluarkan – itu akan menyakitkan. Tapi itu keberanian.

Engkau tidak mau masuk ke dalam dirimu sendiri, engkau tidak mengizinkan orang lain masuk ke dalam dirimu. Tetapi ketika engkau datang kepadaku, engkau harus mengizinkanku masuk ke dalam dirimu. Itulah inti dari sannyas. Pernyataan bagiku untuk mengijinkanku membuka pintumu. Dengan menjadi seorang sannyasin, engkau telah menyerahkan kunci pintumu kepadaku. Sekarang, rasa sakit akan terus ada, karena sannyas adalah meja operasi. Banyak bagian yang busuk harus dipotong dan banyak racun harus dikeluarkan darimu – ini akan menyakitkan. Tapi ini sebuah langkah berani. Jalani itu dan kegembiraanmu akan luar biasa hebat.

OSHO
The Rebellious Spirit
—————

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apakah Egomu Sendiri sudah Mengalahkanmu?

  Saat kita semakin dalam dan lebih jauh di jalan spiritual kita, ego kita tidak punya pilihan selain menjadi lebih licik dalam suatu cara agar itu terjadi, terutama jika kita memiliki ego yang ulet. Pertama kali saya menyadari betapa kuatnya ego saya adalah pertama kali saya mencoba  jamur psikedelik . Saya tertawa.sekarang ketika saya memikirkan betapa liciknya ego saya pada hari itu. Saya dan beberapa teman saya yang memutuskan untuk memakan jamur itu di pantai. Dalam waktu satu jam mereka berdua merasakan efeknya tetapi saya tidak merasakan apa-apa. Jika Anda pernah memakan  jamur psikedelik  sebagai latihan spiritual, Anda tahu bahwa pada akhirnya ego Anda pada dasarnya terlempar dan yang tersisa hanyalah mata cinta; ego Anda benar-benar terlepas dari keberadaan Anda. Apa yang saya tahu sekarang adalah bahwa ego saya melawan jamur dengan sekuat tenaga, sedemikian rupa sehingga mencoba meyakinkan saya bahwa alasan saya tidak merasakan efeknya ...

Tentang kebebasan

 Sejak saya masih kecil, saya melihat dunia ini penuh kebohongan dan kebusukan. Orang-orang selalu hidup dalam ketidakamanan dan terus menciptakan ruang dan kolamnya masing-masing untuk melindungi dirinya. Itu semua di sebabkan dari kebohongan dan perbudakan yang terus di pertahankan sebagai kebenaran. Dan itu semua benar-benar menciptakan banyak penderitaan dan kebodohan bagi kita semua. Orientasi saya selalu pada kebebasan, dalam perjalanan hidup saya disini, saya selalu mencarinya.. sampai pada akhirnya saya menemukannya semua yang saya cari ada di dalam diri saya sendiri. Pikiran, nilai diri, arti, tidak ada yang bisa memberikannya kepada saya selain diri saya sendiri. Ketika saya hidup sebagai individu, saya merasa bebas. Saya menemukan nilai dan arti dalam diri saya. Ketika saya melepaskan semua hal tentang persamaan, bahwa saya bukanlah bagian dari kelompok, bahwa saya memiliki karakter, nilai, warna sendiri.. yang berbeda. Saya merasa menemukan diri saya kembali.~ Prin...