
Jangan terus berpura-pura tertawa saat hatimu sedang menangis. Jangan tersenyum jika matamu berlinang air mata. Jangan bertindak tidak autentik, karena dengan menjadi tidak autentik engkau hanya melindungi lukamu agar tidak sembuh. Seluruh keberadaanmu akan menjadi busuk.
Ekstasi (kebahagiaan tertinggi) hanya keluar dari penderitaan – dan semakin dalam penderitaan, semakin dalam ekstasi; penderitaan total, akan menjadi ekstasi total.
Semuanya harus dibayar. Untuk mendapatkan ekstase, kita harus membayar dengan penderitaan. Seseorang harus melalui kepedihan yang dalam untuk menyingkirkan kesakitan. Kepedihan adalah pembersihan. Kepedihan adalah api yang membakar sampah di dalam diri, ia menghancurkan yang tidak penting. Sama seperti kita memurnikan emas melalui api, kesadaran dimurnikan melalui penderitaan yang dalam. Penderitaan memiliki suatu pelajaran yang ingin dia sampaikan kepadamu.
Jangan hindari penderitaan! Jika engkau menghindari penderitaan, engkau menghindari kebahagiaan. Jangan hindari dunia! Jika engkau menghindari dunia, engkau telah menghindari Tuhan. Jangan hindari kegelapan. Jika engkau menghindari kegelapan, fajar tidak akan pernah datang. Setelah melampaui kegelapan malam itulah pagi cerah lahir. Dan saat malam paling gelap, matahari akan segera terbit.
Ingatlah hukum dasar kehidupan ini, paradoks ini.
Jika aku harus membersihkanmu, memurnikanmu, aku harus menjadi api bagimu. Yesus berkata: Aku adalah api dan aku datang untuk membakar dirimu! Setiap master adalah api. Jika engkau menemukan master yang bukan api, tetapi hanya sejenis salep yang menenangkan, larilah darinya! Dia akan memberimu penghiburan, tetapi dia tidak akan bisa mengubah energi kehidupanmu. Dia mungkin bisa membuatmu nyaman dalam hidup, tapi dia tidak akan bisa membantumu melampaui hidup.
Master sejati selalu seperti api. Seorang master sejati selalu ada untuk menghancurkan.
Ya, aku akan menyentuh lukamu lagi dan lagi. Engkau menyembunyikan lukamu. Itulah mengapa lukamu tidak sembuh. Semua lukamu harus dibawa ke bawah sinar matahari, ke udara segar. Mereka harus diekspos, dimunculkan lagi. Hanya dalam eksposur itulah lukamu akan mulai sembuh. Dan, ya, saat aku menyentuh lukamu, itu akan menyakitkan. Semakin ingin sembuh, semakin sakit, karena banyak nanah di sana. Engkau telah menyembunyikan lukamu begitu lama – banyak nanah terkumpul di sana. Nanah itu harus dikeluarkan dari dirimu.
Penderitaan bukanlah kutukan. Penderitaan adalah berkah – karena dari penderitaan ini, perlahan-lahan, dirimu akan muncul dalam dimensi yang sama sekali berbeda. Penerimaan adalah jembatannya. Terimalah rasa sakitnya, terimalah lukanya, terima dirimu apa adanya! Jangan mencoba berpura-pura menjadi orang lain, jangan mencoba menunjukkan bahwa engkau bukan dirimu saat ini. Jangan egois, dan jangan terus berpura-pura tertawa saat hatimu menangis. Jangan tersenyum jika matamu berlinang air mata. Jangan menjadi tidak autentik, karena dengan menjadi tidak autentik engkau hanya melindungi lukamu agar tidak sembuh. Seluruh keberadaanmu akan membusuk.
Begitulah orang-orang itu! Ada banyak nanah di diri mereka. Dan mereka, entah bagaimana, mengaturnya sehingga tidak ada yang tahu betapa busuknya di dalam diri mereka. Mereka tidak masuk ke dalam diri mereka sendiri karena baunya terlalu menyengat dan itu mengerikan. Dan mereka tidak mengizinkan siapa pun untuk memasuki keberadaan mereka – itulah mengapa mereka tidak bisa mencintai, karena cinta membutuhkan eksposur. Mereka tidak melakukan hubungan, karena jika engkau berhubungan dengan seseorang, dia mungkin akan mencium hal-hal yang kau sembunyikan yang kau tahu ada di dalam dirimu. Engkau tetap menyendiri, engkau hanya melangkah sejauh ini.
Sannyas itu seperti meja operasi. Banyak bagian yang busuk harus dipotong dan banyak racun harus dikeluarkan – itu akan menyakitkan. Tapi itu keberanian.
Engkau tidak mau masuk ke dalam dirimu sendiri, engkau tidak mengizinkan orang lain masuk ke dalam dirimu. Tetapi ketika engkau datang kepadaku, engkau harus mengizinkanku masuk ke dalam dirimu. Itulah inti dari sannyas. Pernyataan bagiku untuk mengijinkanku membuka pintumu. Dengan menjadi seorang sannyasin, engkau telah menyerahkan kunci pintumu kepadaku. Sekarang, rasa sakit akan terus ada, karena sannyas adalah meja operasi. Banyak bagian yang busuk harus dipotong dan banyak racun harus dikeluarkan darimu – ini akan menyakitkan. Tapi ini sebuah langkah berani. Jalani itu dan kegembiraanmu akan luar biasa hebat.
OSHO
The Rebellious Spirit
—————
Komentar
Posting Komentar